Mencintai Musik Inkulturasi: Roh Iman dalam Tradisi Memuji Yang Mahatinggi


Begitu menyenangkan ketika mengikuti latihan musik Liturgi bersama tim dari Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta yaitu Bu Elis dan Mbak Esti. Mulai dari tanggal 6 sampai 8 Agustus 2024, para Frater Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang melaksanakan pelatihan singkat mengenai musik dan lagu Inkulturasi. Meskipun singkat, tetapi banyak hal dan ilmu yang dapat kami peroleh selama mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Saya pribadi sangat terkagum-kagum oleh perjuangan Romo Karl Edmund Prier, S.J. bersama Bapak Paul Widyawan yang bersama-sama memulai Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta hingga menjadi seperti saat ini. Saya menyebutnya sebagai perjuangan yang berdarah-darah. Meskipun banyak tanggapan miring, tidak mendapatkan dukungan dari banyak oknum, beliau berdua tetap konsisten dalam memperjuangkan musik inkulturasi yang menurut saya begitu kaya dengan makna dan juga rasa Indonesia. 

Kami juga mendapatkan pengetahuan penting tentang sejarah bagaimana proses mengembangkan lagu-lagu daerah untuk mengisi kekayaan Liturgi Gereja Katolik Indonesia. Proses yang tidak mudah, kedua orang hebat tersebut terus berjuang tanpa henti meskipun ada "oknum" di dalam tubuh Gereja sendiri yang seolah menolak kehadiran lagu dan musik-musik cita rasa Indonesia tradisional tersebut. Tentu saja perjuangan ini tidak lepas dari gerakan akar rumput yang notabene berasal dari kalangan tradisional, sederhana, dekat dengan alam dan menjunjung adat istiadat. Romo Prier dan Pak Paul Widyawan memandang "hasil bumi dan usaha manusia" yang berkenan pada Allah dalam setiap musik yang dilahirkan dari rahim tradisi. Ini dibuktikan dengan lahirnya banyak sekali karya-karya asli pribumi yang berasal dari cita rasa kekayaan Indonesia. Mengutip kata-kata Romo Prier sebagaimana diungkapkan Bu Elis,"Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia?" di mana orang-orang masa kini cenderung menyukai lagu-lagu internasional yang acapkali tidak dimengerti maknanya. 

Saya pribadi sangat terharu dan antusias selama pelatihan singkat tersebut. Memperhatikan teman-teman yang serius dan para narasumber yang begitu santai dan asyik memberikan pengetahuan baru bagi kami para calon imam. Bu Elis bersama Mbak Esti tidak hanya memberikan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga menunjukkan langkah-langkah konkret dalam praktik nyata terutama dalam menyanyikan lagu dalam Madah Bhakti dengan penuh penjiwaan dan bagaimana memainkan lagu Inkulturasi sesuai jiwanya. Dalam suatu penjelasan, Bu Elis mengatakan bagaimana kita menyanyikan lagu serta menjiwai musik inkulturasi baik kondaktor, pemusik dan penyanyi agar sama-sama merasakan "kesetrum" menurut istilah Romo Prier. Dan benar, kami yang diajarkan untuk bernyanyi dari beberapa lagu Madah Bhakti hasil lokakarya dan perjuangan besar Romo Prier dan Pak Paul, merasakan daya "kesetrum" itu. Kami disetrum untuk mencintai lagu dan musik inkulturasi serta memperkenalkannya kepada para umat,"Inilah cita rasa Indonesia". 

Sebagai penutup, saya sendiri mencintai lagu dan musik inkulturasi. Sejak SMP, saya diajarkan oleh salah seorang guru yang saat ini menjadi orang penting di Pusat Musik Liturgi. Beliaulah Bu Elisabet yang tidak lain dan tidak bukan adalah guru Seni di sekolah saya dahulu, SMP Pangudi Luhur St. Albertus Ketapang, yang saat ini pula mengajarkan saya kembali tentang musik Liturgi Inkulturasi. Pengetahuan notasi, bernyanyi, dan mencintai kebudayaan dimulai sejak saya SMP ini. Penampilan-penampilan seni di sekolah, berlatih paduan suara di Gereja dengan lagu Inkulturasi, semakin menumbuhkan rasa cinta saya pada musik-musik tradisional. 

Dulu saya sempat berpikir, bahwa lagu-lagu di Gereja Katolik harus memiliki unsur Gregorian dan hanya ada di Puji Syukur (karena di Keuskupan Ketapang sendiri menggunakan lagu-lagu Puji Syukur). Suatu ketika, kami mendapatkan partitur lagu-lagu daerah yang berasal dari Madah Bhakti. Ketika saya menyanyikan dan berlatih bersama, saya begitu kagum pada harmoni serta musik yang digunakan untuk mengiringi lagu tersebut. Begitu indah, dan saya mulai jatuh cinta dengan lagu-lagu inkulturasi budaya dari berbagai daerah khususnya daerah saya sendiri, Kalimantan yang tidak kalah pilihan lagunya di dalam Madah Bhakti. Setelah mendapatkan penjelasan dari Bu Elis dan Mbak Esti, saya disadarkan kembali. Dari berbagai macam teori-teori Liturgi yang sudah saya terima dari kampus dan sempat membuat jiwa "konservatif" merasuki diri saya, perlahan terbuka dan mengembalikan rasa cinta saya akan lagu dan musik inkulturasi. Saya sangat berterima kasih pada Bu Elis, yang bukan orang asing bagi saya. Beliau adalah guru saya dan juga Tante dalam keluarga besar saya di Ketapang. Juga Mbak Esti, yang begitu sabar dalam membimbing para pemusik kami di Seminari dalam menjiwai musik inkulturasi. Dalam tulisan ini, saya sangat berterima kasih atas apa yang diberikan kepada kami, terutama waktu, tenaga, usaha serta perjuangan yang saya yakin akan terus berlanjut bagi tumbuh kembangnya lagu dan musik liturgi inkulturasi dalam tubuh Gereja. 

Saya juga yakin, Tuhan Yesus tidak pernah menolak adat istiadat-Nya ketika Ia hidup saat melaksanakan karya Allah di dunia. Ia juga bermazmur dan memuji Allah dengan tata cara adat Yahudi. Maka dari itu, kita yang terlahir dalam adat asali masing-masing, tidak hanya memiliki kewajiban, tetapi juga berhak untuk mengembangkan adat istiadatnya agar tetap lestari. Apalagi jika itu diberi roh iman sehingga nilai tradisional tersebut dapat menjadi sarana dalam penyembahan kepada Allah. Lagu dan musik sebagai tubuh yang tampak, rasa tradisi sebagai jiwanya, dan roh iman pada Kristus menyempurnakan semuanya sebagai kesatuan yang utuh. Lagu dan Musik Inkulturasi adalah Roh iman dalam tradisi yang memuji Dia Yang Mahatinggi. Itulah yang saya rasakan ketika lagu Inkulturasi menjadi perwakilan setiap manusia di berbagai belahan dunia dalam memuji dan memuliakan Tuhan dengan jati dirinya masing-masing. Maka dari itu, saya berharap perjuangan Pusat Musik Liturgi (PML) harus terus berlanjut demi memperkaya liturgi Gereja Katolik. Dan tentu saja, semua hasil bumi dan usaha kita tersebut adalah demi kemuliaan Tuhan yang paling besar. 


Share:

0 Komentar:

Posting Komentar

Rektor Seminari Tinggi


R.P. GREGORIUS TRI WARDOYO, C.M.
Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang

Jangan Lupa Ikuti Kami

Logo

Postingan Populer

Arsip

Channel Kami