Malang - Hari ini kami melaksanakan rekoleksi yang diadakan rutin setiap bulan. Tema yang diangkat kali ini adalah "Jalan Tuhan Allah: Jalan Pengharapan. Kegiatan rekoleksi diadakan di Kapel Atas dan diikuti oleh seluruh Frater. Rekoleksi kali ini dibimbing oleh RD. Donatus Dole. Saat membuka sesi, Romo Don mengatakan bahwa orang yang beriman harus memiliki harapan yang besar atau mimpi yang besar. Jika ingin ditelaah lebih jauh, jalan dari Yerusalem menuju Yerikho ini seperti jalur turunan. Mengapa jalan turun? Hal tersebut mau mengatakan inkarnasi Allah melalui Kristus. Allah Mahatinggi mau turun ke dunia. "Walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Bdk. Filipi 2:6-7). Ini ada kaitannya dengan bacaan hari Minggu besok.
Rekoleksi - Jalan Tuhan Allah: Jalan Pengharapan
Malang - Hari ini kami melaksanakan rekoleksi yang diadakan rutin setiap bulan. Tema yang diangkat kali ini adalah "Jalan Tuhan Allah: Jalan Pengharapan. Kegiatan rekoleksi diadakan di Kapel Atas dan diikuti oleh seluruh Frater. Rekoleksi kali ini dibimbing oleh RD. Donatus Dole. Saat membuka sesi, Romo Don mengatakan bahwa orang yang beriman harus memiliki harapan yang besar atau mimpi yang besar. Jika ingin ditelaah lebih jauh, jalan dari Yerusalem menuju Yerikho ini seperti jalur turunan. Mengapa jalan turun? Hal tersebut mau mengatakan inkarnasi Allah melalui Kristus. Allah Mahatinggi mau turun ke dunia. "Walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Bdk. Filipi 2:6-7). Ini ada kaitannya dengan bacaan hari Minggu besok.
Sertijab Kabinet "Gloria" kepada "Barokah"
Dokumentasi: Fr. Tito
Wajah Baru Komunitas 2025
Saat ini, covid telah berlalu beberapa tahun lalu. Semua sudah bebas dari masa-masa sulit. Dan inilah Komunitas STIG tahun 2025 saat ini. Semoga di kepengurusan yang baru nanti, setiap tahun ada pembaharuan foto komunitas sehingga umat dan siapapun bisa mengetahui bahwa Komunitas STIG tetap eksis dan terus menerus memperbaharui diri seperti semangat pelindung, San Giovanni XXIII, pencetus Konsili Vatikan II.
Foto Lama:
Pertandingan Persahabatan PR VS SMM
Malang - Hari ini, kami melaksanakan pertandingan sepakbola dalam rangka pertandingan persahabatan bersama Frater SMM. Puji Tuhan, meskipun tim lawan benar-benar kuat, tetapi dengan upaya keras, kami berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 1-0. Terima kasih kepada para sahabat SMM yang telah bersedia datang ke lapangan hijau STIG dengan membawa sportifitas.
Misa Penerimaan Jubah Angkatan 38 di TOR San Giovanni XXIII Malang
Dengan moto "Pancarkan Cahaya Pelitamu", Misa yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB, berlangsung khidmat. Selama kegiatan berlangsung, tim dokumentasi, misdinar, dan kor dari Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII, Malang, turut mendukung kelancarannya.
Makna Ibadat Sabda dan Ibadat Ekaristi
Dalam homilinya, Mgr. Henricus menyampaikan pentingnya makna Perayaan Ekaristi yang terdiri atas dua bagian utama, yaitu Ibadat Sabda dan Ibadat Ekaristi. Menurut Konsili Vatikan II, kedua bagian ini memiliki nilai yang sama dalam memberikan santapan rohani kepada umat.
Bagian pertama, yakni Ibadat Sabda, mendapat perhatian khusus dalam bacaan Injil hari ini. Dalam penjelasannya, Uskup Malang mengungkapkan bahwa Sabda Tuhan sangatlah penting bagi umat Yahudi. Hal itu tercermin dalam kebiasaan mereka membaca Kitab Taurat secara meriah setiap tahunnya, seperti dikisahkan melalui bacaan pertama.
"Kitab Taurat seperti matahari yang menyinari hidup manusia, menjadi cahaya dan penuntun langkah menuju jalan yang benar," ujar Mgr. Henricus. Dalam kitab Mazmur, firman Tuhan dipuji sebagai sesuatu yang manis seperti madu, menyegarkan jiwa, dan memberikan pengertian pada orang bersahaja.
Pada kesempatan berikutnya, Mgr. Henricus juga mengulas tradisi ibadat pada zaman Nabi Nehemia dan Nabi Ezra, yang menjadi cikal bakal susunan Ibadat Sabda dalam Perayaan Ekaristi saat ini. Dalam tradisi tersebut, Kitab Taurat dan Kitab Nabi dibacakan, dan perhatian umat tertuju pada pribadi yang membacakan firman. Sesuai adat yang berlaku di zaman itu, barangsiapa mampu memberi penjelasan atas isi kitab yang dibacakan, diberi kesempatan untuk berkotbah.
Uskup Malang menekankan pentingnya mendengarkan firman Tuhan yang dapat mencerahkan hati, menghangatkan jiwa, dan memberikan petunjuk dalam hidup. "Dalam Ibadat Sabda, kita bertemu dengan Tuhan yang berbicara secara pribadi kepada kita."
Refleksi untuk Para Calon Imam
Pesan khusus disampaikan Mgr. Henricus di akhir homilinya. Kepada 28 calon imam yang akan menerima jubah, Uskup menjelaskan visi dan misi yang dijadikan landasan hidup oleh Tuhan Yesus selama hidupnya; seperti tertuang dalam Injil Lukas, dengan mengutip Nabi Yesaya: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
Menurut Mgr. Henricus, para calon imam pun harus memiliki visi serta
motivasi yang benar dalam panggilan imamatnya. "Menjadi imam bukanlah
jalan menuju kekayaan atau kekuasaan. Jika itu tujuanmu, maka tempat ini
bukanlah tempat yang tepat," tegasnya.
Uskup Malang mewanti-wanti bahwa tujuan menjadi imam adalah untuk melayani, bukan dilayani. “Semoga kalian memiliki cita-cita dan motivasi yang murni. Tuhan memberkati perjalanan kalian,” pungkas Mgr. Henricus.
Pemberkatan dan Pengenaan Jubah
Usai homili, Misa dilanjutkan dengan ritus pemberkatan jubah yang diawali dengan doa pemberkatan yang dipimpin oleh Uskup Malang. Berikut kutipan rumusan doa pemberkatan jubah:
"Demi Kasih Karunia-Mu ya Bapa, berkenanlah menganugerahkan berkat dan rahmat-Mu atas jubah-jubah ini Dalam Nama Bapa (†), dan Putra (†), dan Roh Kudus (†). Semoga mereka yang menerima dan mengenakannya, Engkau bantu untuk memperindahnya dengan perilaku yang kudus, tutur kata yang baik, dan hati serta pikiran mereka yang penuh hikmat. Melalui jubah-jubah ini, semoga para malaikat-Mu yang kudus membimbing dan melindungi para calon imam-Mu, dalam menanggapi panggilan-Mu, sehingga mereka pantas menjadi utusan-Mu, yang melayani-Mu, dan mewartakan belas kasih-Mu dengan segenap jiwa dan raga mereka. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin."
Setelah doa berakhir, jubah-jubah yang telah disiapkan di atas meja altar diperciki air suci oleh Mgr. Henricus sebagai simbol penyucian dan perlindungan Ilahi.
Kemudian ke-28 seminaris dipanggil satu per satu ke depan altar untuk menerima jubah secara langsung dari Uskup Malang. Setelah itu, para frater diarahkan ke ruang ganti yang tersedia. Beberapa frater yang ditugaskan berjaga di dekat ruang ganti membantu para seminaris, agar prosesi pengenaan jubah berlangsung cepat dan tertib.
Usai mengenakan jubah, para frater berbaris rapi dan keluar melalui pintu utama. Paduan suara mengiringi langkah-langkah mereka menuju altar. Masing-masing frater membawa lilin di tangannya sebagai simbol terang Kristus. Lilin-lilin tersebut lalu diletakkan di dekat patung Bunda Maria. Pada saat bersamaan, seluruh umat dan paduan suara mengumandangkan lagu "Nderek Dewi Maria" dengan khidmat, menjadikan suasana penuh haru dan syukur.
Pantun Sarat Harapan dan Doa
Dalam sambutannya, Fr. Willy Pramudya mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan atas berkat dan rahmat berlimpah yang menjadikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar. "Hari ini adalah hari yang menggembirakan bagi kami," ujarnya. Ia menegaskan bahwa jubah yang diterima merupakan simbol penyerahan diri kepada Tuhan di keuskupan masing-masing, sekaligus tanda kesetiaan agar bertekun dan taat dalam perjalanan imamat yang ditempuh.
Tak lupa, Fr. Willy menyampaikan ucapan terima kasih kepada para orang tua, donatur, serta semua pihak yang berkontribusi mendukung perjalanan para frater hingga sampai pada momen istimewa hari ini.
Ia juga memohon dukungan dan doa dari semua umat agar para frater setia dalam panggilan hingga akhir. Di penghujung sambutannya, Fr. Willy menyisipkan pantun yang mengundang yang sarat harapan dan doa:
Pak Oto menjual gabah,
Tak lupa membeli palu.
Sekarang ini kami pakai jubah,
Mohon dukungan dan doanya selalu.
Pergi ke hutan ketemu beruang,
Pergi ke kota ketemu Dilan.
Mari, Frater, kita berjuang,
Meniti jalan dalam panggilan.
Ibu Ida membeli selasih,
Pak Deo membeli Ducati.
Kami ucapkan terima kasih,
Semoga Tuhan memberkati.
Asal Kalimantan dan Malang
Sambutan penuh sukacita disampaikan Romo Luis atas kasih dan kebaikan Allah, yang telah memperkenankan para frater menerima jubah sebagai simbol perjuangan dalam merawat panggilan Tuhan.
Lebih lanjut Romo Luis menjelaskan, dari 28 peserta angkatan 38 yang dibina, terdapat 24 frater yang berasal dari Kalimantan, dan sisanya dari Keuskupan Malang. Meskipun berasal dari tempat yang berbeda dan usia yang beragam, justru menjadi kekayaan tersendiri. "Ada yang sebaya, ada yang merasa adik, bahkan ada yang merasa seperti hidup dengan pamannya, karena selisih usia yang cukup jauh," ujarnya tersenyum.
Menurut Romo Luis, upacara penerimaan jubah merupakan bentuk penegasan bahwa masa pembinaan dalam TOR dan Seminari Tinggi adalah proses transformasi yang mempersiapkan para frater agar layak menerima Tahbisan Imamat. "Dari pakaian adat kini mengenakan jubah, wajah mereka lebih cerah, dan ini menjadi peringatan untuk merawat panggilan," ungkapnya.
Romo Luis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Uskup Keuskupan Malang, serta keluarga besar Seminari Tinggi San Giovanni XXIII Malang. Ia juga menyebutkan nama imam yang hadir, diantaranya Romo Petrus Prihatin, Romo Awan, Romo Tri Wardoyo, Romo Fritz, Romo Puput, Romo Geru, dan Romo Trio. Di akhir sambutannya Romo Luis juga mengakhirinya dengan sebait pantun:
Berburu lebah saat jam tidur,
Ketahuan rektor kena hukum.
Menerima jubah hati bersyukur,
Tak pernah kendor mengabdi Tuhan.
Usai Misa, Uskup dan para imam berfoto bersama para frater penerima
jubah, dilanjutkan ramah tamah di Taman PSE.
Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya, Pr.
Editor: Dionisius Agus Puguh
Rekoleksi "Berakar dalam Iman"
Hari ini, kami diberkati dengan kesempatan untuk mengikuti Rekoleksi bersama Romo Suhar di Aula Kapel Atas, dengan tema "Berakar dalam Iman." Sebuah tema yang mengajak kami untuk merefleksikan lebih dalam tentang fondasi spiritual yang menopang hidup kami sebagai umat beriman. Melalui sesi ini, kami tidak hanya mendengarkan paparan materi yang kaya akan kebijaksanaan, tetapi juga terlibat dalam diskusi kelompok yang mendalam, membahas berbagai aspek dari Sabda Allah.
Berakar dalam Iman: Apa Artinya? Ketika kita berbicara tentang "berakar dalam iman," kita diajak untuk melihat iman bukan hanya sebagai kepercayaan yang dangkal atau hanya sekadar pengakuan verbal, tetapi sebagai sesuatu yang tertanam dalam-dalam di hati dan jiwa kita, seperti akar pohon yang menyerap air dan nutrisi dari tanah untuk tumbuh dan bertahan hidup. Iman yang berakar adalah iman yang hidup dan berbuah, yang mempengaruhi setiap aspek hidup kita — mulai dari cara kita berpikir, bertindak, hingga berinteraksi dengan sesama.
Inspirasi dan Hidup oleh Sabda Allah Melalui diskusi kelompok, kami diajak merenungkan berbagai dimensi Sabda Allah yang berperan dalam hidup kita. Sabda Allah yang kami imani bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi merupakan sumber inspirasi dan pencerahan yang memberikan makna pada hidup kita sehari-hari. Misalnya, ketika Sabda Allah memberi pencerahan, kita melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda, lebih luas dan lebih mendalam. Pencerahan ini menuntun kita untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana dan untuk bertindak dengan kasih yang lebih tulus.
Sabda Allah sebagai Pedoman dan Arah Hidup Sabda Allah juga hadir sebagai pedoman hidup, memberi kita petunjuk tentang mana yang benar dan mana yang salah. Di dalam dunia yang penuh dengan pilihan dan kebingungan, Sabda ini bagaikan kompas yang mengarahkan langkah-langkah kita, menjauhkan kita dari jalan yang menyesatkan dan membawa kita ke arah yang benar. Ketika kita merasa tersesat atau kehilangan arah, Sabda Allah mengingatkan kita bahwa kita selalu bisa kembali pada-Nya, menemukan jalan yang membawa kita pada kedamaian dan keselamatan.
Motivasi untuk Hidup dan Sukses yang Berlandaskan Iman Sabda Allah juga memotivasi kita untuk hidup lebih bermakna dan mencapai kesuksesan yang sejati. Namun, kesuksesan yang ditawarkan oleh Sabda Allah berbeda dengan kesuksesan duniawi yang sering diukur dengan harta atau kedudukan. Sabda Allah mengajarkan bahwa sukses sejati adalah hidup dalam kehendak Allah, melayani dengan rendah hati, dan menjadi berkat bagi orang lain. Motivasi yang diberikan Sabda Allah bukanlah untuk mengejar ambisi pribadi, tetapi untuk menghidupi panggilan-Nya, berbuat kasih dan keadilan, serta menebar kebaikan di tengah dunia.
Tantangan Sabda Allah: Melawan Keserakahan dan Kesombongan Diskusi juga mengangkat sisi lain dari Sabda Allah, yaitu sebagai tantangan bagi kita. Sabda Allah tidak hanya memberi penghiburan, tetapi juga kerap kali menegur dan memperingatkan kita. Dalam dunia yang sering kali memuja keserakahan dan kesombongan, Sabda Allah mengingatkan kita untuk tetap rendah hati, untuk mengutamakan kasih dan kepedulian terhadap sesama di atas ambisi pribadi. Ini adalah tantangan yang tidak mudah, karena berarti kita harus melawan kecenderungan dunia yang sering kali menyesatkan. Namun, justru di sini iman kita diuji — apakah kita berani hidup menurut ajaran-Nya, meski itu berarti harus melawan arus budaya yang ada?
Maka dari itu, di akhir kegiatan rekoleksi ini, kami menyadari betapa pentingnya memiliki akar yang kuat dalam iman. Seperti pohon yang mampu bertahan dari badai karena akarnya yang dalam, begitu pula kita dipanggil untuk berakar dalam iman agar mampu menghadapi berbagai tantangan hidup. Sabda Allah yang telah kami renungkan hari ini adalah seperti air yang menyirami akar-akar iman kami, memberi kami kekuatan, penghiburan, dan motivasi untuk terus bertumbuh.
Semoga pengalaman rekoleksi ini bukan hanya menjadi momen sesaat, tetapi menjadi titik balik bagi kami untuk semakin menghidupi Sabda Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kami diundang untuk menjadi murid Kristus yang sejati, yang tidak hanya mendengar Sabda-Nya, tetapi juga menghidupi dan mengamalkannya dengan penuh kasih dan ketulusan. Berakar dalam iman berarti hidup dalam Sabda Allah yang tidak pernah berubah, yang senantiasa menjadi pelita bagi jalan hidup kita.
Pelatihan Mesin Sitasi: Fondasi Studi Calon Imam Masa Kini
Pada hari ini, seksi studi Komunitas mengadakan kegiatan pelatihan mesin Sitasi untuk Frater Tingkat 1. Yang menjadi pembicara aktif pada pelatihan kali ini adalah Fr. Ronald Paskalis. Ada juga penulis bersama Fr. Rohit yang berkeliling untuk membantu praktik pengguna mesin sitasi. Mesin sitasi ini sangat penting untuk pengerjaan tugas-tugas paper, bahkan ketika tingkat 4 nanti, mesin stasi akan terus digunakan untuk menyusun skripsi. Semangat dalam menggali pengetahuan umum selain Filsafat dan Teologi harus terus digalakkan. Mengapa tidak? Ilmu-ilmu pengetahuan lainnya merupakan turunan pemikiran filsafat yang sesungguhnya saling melengkapi. Tentu saja, tidaklah tabu bagi seorang calon imam untuk senantiasa up to date pada perkembangan zaman. Justru, menolak perubahan merupakan sikap konservatif berlebihan yang bertentangan dengan semangat pembaruan (Aggiornamento) yang dihidupi oleh para calon imam San Giovanni XXIII yang juga membawa semangat Konsili Vatikan II. Di zaman ini, justru seorang calon imam diharapkan mampu mengikuti perubahan tanpa terseret oleh arus dengan tetap merujuk pada identitasnya sebagai seorang 'seminaris' yang disemai untuk ditanam di tengah-tengah dunia. Dengan mempelajari mesin Sitasi, diharapkan dapat sungguh membantu semangat para calon imam dalam melaksanakan studi dengan kesungguhan dan perenungan yang mendalam akan tujuannya ditempa dalam studi dan pembinaan formasi.
HUT THS THM di STIG Penuh Makna
Perayaan HUT THS yang ke-39 dan THM yang ke-38 yang diselenggarakan di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang menggarisbawahi pentingnya meneguhkan persaudaraan dalam semangat "Pro Patria et Ecclesia:. Melalui tema "Meneguhkan Persaudaraan , Menghidupi Pro Patria et Ecclesia dengan Jangkar Kasih, Mentalistas Kokoh, dan Dinamis" mengajak anggota THS-THM dan kita semua untuk meneladani cinta Kasih Kristus yang tak tergoyahkan. Dengan mentalitas yang kokoh dan iman yang dalam, setiap anggota dipanggil untuk menjadi murid Yesus yang tangguh dan warga negara yang berbakti, menghadapi tantangan dengan cinta kasih dan semangat persaudaraan sejati. Acara ini juga menjadi momen reflektif untuk mengingat kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendiri, yakni membangun generasi muda Katolik yang rendah hati, setia dan cerdas dalam iman. Di tengah gelombang tantangan zaman, anggota THS-THM diajak untuk berpegang pada jangkar iman, membangun kekuatan kolektif dalam persatuan dan kasih, serta menjadi saksi Kristus dalam masyarakat. Dengan semangat ini, THS-THM tidak hanya menjadi wadah bela diri, tetapi juga arena pembentukan karakter yang mempersembahkan hidupnya untuk bangsa dan Gereja, sesuai dengan visi Gereja yang Satu, Kudus , Katolik dan Apostolik.
Sumber: Disadur dari Slide Kronik Dewan Inti Komunitas STIG 2024 Kabinet Gloria.
Foto: Fr. Tito
Sosialisasi Pastoral di UAKKat dan KMK/KMKK Universitas Brawijaya
Adapun, tiga unsur kepemimpinan yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Pertama, kepemimpinan Kristiani menuntut kita untuk memiliki kemampuan untuk melayani. Kedua, kepemimpinan yang diharapkan adalah kemampuan untuk melibatkan orang supaya berpartisipasi. Dan terakhir, empowering (memberdayakan) secara positif orang lain.
Reportase: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya, Pr.
Rekoleksi "Keutamaan Teologal" 19-20 Oktober 2024
Romo Endi menekankan bahwa iman adalah landasan yang menumbuhkan kepercayaan penuh kepada Tuhan dalam setiap situasi hidup. Harapan memberi kami kekuatan, arah, dan tujuan dalam panggilan kami. Sementara itu, kasih, sebagai puncak dari iman dan harapan, mengingatkan kami untuk mencintai tanpa pamrih, meneladani cinta Tuhan yang tanpa batas.
Refleksi ini sejalan dengan tema tahunan Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII, yaitu “Kami calon imam, berakar dalam iman, bertumbuh dalam harapan, dan berbuah dalam kasih.” Sebagai calon imam, kami belajar bahwa berakar dalam iman berarti membangun kepercayaan yang kokoh dan terus berkomitmen untuk merawat relasi dengan Tuhan. Bertumbuh dalam harapan mengajak kami untuk optimis serta berusaha menjadi sarana harapan bagi orang-orang di sekitar kami. Berbuah dalam kasih mengingatkan kami bahwa seluruh proses pembelajaran dan pelayanan yang kami jalani harus mengalir menjadi cinta yang nyata kepada sesama, sehingga mereka merasakan cinta kasih Tuhan melalui kehadiran kami.
Puncak Giovannian Dipimpin Imam Baru "Alumni" STISG
Pada tanggal 16 Oktober 2024, acara puncak dari perayaan Giovannian di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang berlangsung dengan khidmat di Lapangan Basket STISG. Dimulai pada pukul 17.00, puncak kegiatan ini dirayakan dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh dua imam yang baru saja menerima tahbisan, yaitu Romo Anang dan Romo David. Misa tersebut dihadiri oleh Rektor seminari, para Formator, serta seluruh anggota komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang, sehingga meneguhkan rasa kebersamaan dan persatuan dalam komunitas. Hadir pula Romo Teguh dan Ibu Ria dari Sekretariat Seminari yang turut menyaksikan dan mengambil bagian dalam perayaan ini.
Acara ini mengandung makna tentang kebersamaan dalam iman dan panggilan untuk hidup dalam kekudusan. Kebersamaan dalam komunitas seminari, yang diperkuat melalui kehadiran para imam baru dan seluruh komunitas, menggambarkan simbol persekutuan Gereja yang berakar pada iman kepada Kristus. Dalam tradisi Katolik, tahbisan imam merupakan simbol dari panggilan khusus untuk melayani dan menggembalakan umat. Kehadiran Romo Anang dan Romo David yang baru saja ditahbiskan mencerminkan komitmen baru dan kesegaran dalam semangat pelayanan pastoral yang dihidupi bersama oleh seluruh komunitas. Acara ini menjadi simbol dari perjalanan dan transformasi hidup, di mana perayaan Giovannian mengingatkan akan pentingnya proses pembentukan diri melalui refleksi dan pertumbuhan rohani yang terus-menerus.
Selain itu, perayaan diadakan di ruang terbuka seperti lapangan basket dimaknai sebagai persekutuan dengan Tuhan tidak terbatas pada ruang sakral Gereja, melainkan dapat diwujudkan di mana saja, terutama di tengah komunitas. Hal ini menyiratkan makna dari iman yang hidup, yang tidak hanya terbatas pada ritual tetapi meresap dalam keseharian kehidupan berkomunitas. Dengan demikian, puncak acara Giovannian ini menjadi refleksi spiritual yang sejati tentang kebersamaan, panggilan untuk hidup dalam kasih dan pelayanan, serta semangat untuk terus bertumbuh dalam iman.
Seminar Umum Bersama Hakim MK Dr. Daniel Yusmic Pancastaki Foekh, S.H., M.H.
Pada 4 Oktober 2024, para Frater STISG melaksanakan kegiatan bersama Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Bpk. Dr. Daniel Yusmic Pancastaki Foekh, S.H., M.H. di Kapel Atas Seminari. Adalah suatu kehormatan mendapat kunjungan dari salah satu tokoh Nasional Indonesia ini. Sebelum kegiatan dilaksakan, sekitar pukul 18.00 para Frater menyambut kedatangan Hakim MK dan rombongan dengan tarian Adat Dayak dan memasuki komplek Seminari Tinggi. Turut hadir pula Rektor Seminari Tinggi R.P. Gregorius Tri Wardoyo, C.M. bersama-sama para Frater menyambut narasumber dari Taman Doa Bunda Segala Suku.
Penyuluhan konstitusi oleh Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Dr. Daniel Yusmic Pancastaki Foekh, S.H., M.H., bagi para calon imam di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII (STISG XXIII) memiliki peran penting dalam pembentukan wawasan kebangsaan dan pemahaman hukum. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan para Frater mengenai hukum dasar negara, tetapi juga menanamkan nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan tata kelola negara yang adil serta beretika. Sebagai calon pemimpin rohani, pemahaman akan konstitusi memberikan dasar untuk melayani umat dalam semangat nasionalisme yang mendalam dan berpedoman pada prinsip keadilan sosial. Dengan memahami hukum dasar, para calon imam dapat berperan sebagai penengah yang bijak dan mendukung terciptanya masyarakat yang damai dan berintegritas. Penyuluhan ini juga mengingatkan para Frater akan pentingnya kontribusi mereka dalam kehidupan berbangsa, tidak hanya di lingkup rohani tetapi juga dalam kehidupan sosial dan moral di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.
Nonton "Kuasa Gelap" Bareng Angkatan
Malang - Pagelaran Film Kuasa Gelap akan tayang di Bioskop. Film horror bertajuk iman Katolik Indonesia ini, bisa menjadi semacam jalan lebar untuk memperkenalkan iman Katolik dari sudut pandang pengusiran setan yang merupakan salah satu tradisi Gereja yang tidak main-main. Praktik eksorsisme ini sudah dilakukan sejak dahulu kala ketika para Murid bersama sang Guru Utama, Yesus Kristus.
Lebih dari itu, kami mendapatkan tiket gratis dari donatur untuk berkempatan menonton bersama. Maka dari itu, atas inisiatif ini, tiket dibagikan di setiap angkatan untuk nonton bersama. Masing-masing tingkat nonton di Bioskop sesuai dengan kesepakatan. Memang, sungguh, dan nyata, bahwa film Kuasa Gelap ini cukup menyeramkan. Tapi bagaimanapun, keseruan dan kebersamaan ini tidak bisa dibandingkan dengan apapun.
Dari Kitab Suci Turun ke Bibliodrama
Tanggal 18 Oktober 2024, Para Frater dalam pekan BKSN 2024 mencoba meresapkan bacaan Nahum dan Habakuk ke dalam bentuk Bibliodrama. Bibliodrama adalah metode pendalaman Kitab Suci yang menggabungkan pendekatan teater dan refleksi pribadi untuk menghidupkan cerita-cerita Alkitab. Dalam bibliodrama, peserta diajak untuk masuk ke dalam peran tokoh-tokoh dalam Kitab Suci, merasakan pengalaman dan emosi mereka, serta menggali makna dan relevansinya bagi kehidupan saat ini. Dengan cara ini, Alkitab tidak hanya dibaca atau dipahami secara intelektual, tetapi dihayati secara emosional dan spiritual. Pendekatan ini memungkinkan peserta merasakan pesan-pesan kitab suci secara lebih mendalam dan personal, serta membuka ruang untuk refleksi diri dan dialog batin. Bibliodrama kerap digunakan dalam kelompok atau komunitas untuk memperkuat pemahaman, kedekatan antar anggota, dan mendorong pertumbuhan iman secara kolektif, karena setiap peserta bisa belajar dari pengalaman dan perspektif satu sama lain dalam menginterpretasikan cerita Alkitab tersebut.
Sertijab Kabinet "Gemoy" ke Kabinet "Gloria"
Mencintai Musik Inkulturasi: Roh Iman dalam Tradisi Memuji Yang Mahatinggi
Begitu menyenangkan ketika mengikuti latihan musik Liturgi bersama tim dari Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta yaitu Bu Elis dan Mbak Esti. Mulai dari tanggal 6 sampai 8 Agustus 2024, para Frater Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang melaksanakan pelatihan singkat mengenai musik dan lagu Inkulturasi. Meskipun singkat, tetapi banyak hal dan ilmu yang dapat kami peroleh selama mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Saya pribadi sangat terkagum-kagum oleh perjuangan Romo Karl Edmund Prier, S.J. bersama Bapak Paul Widyawan yang bersama-sama memulai Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta hingga menjadi seperti saat ini. Saya menyebutnya sebagai perjuangan yang berdarah-darah. Meskipun banyak tanggapan miring, tidak mendapatkan dukungan dari banyak oknum, beliau berdua tetap konsisten dalam memperjuangkan musik inkulturasi yang menurut saya begitu kaya dengan makna dan juga rasa Indonesia.
Kami juga mendapatkan pengetahuan penting tentang sejarah bagaimana proses mengembangkan lagu-lagu daerah untuk mengisi kekayaan Liturgi Gereja Katolik Indonesia. Proses yang tidak mudah, kedua orang hebat tersebut terus berjuang tanpa henti meskipun ada "oknum" di dalam tubuh Gereja sendiri yang seolah menolak kehadiran lagu dan musik-musik cita rasa Indonesia tradisional tersebut. Tentu saja perjuangan ini tidak lepas dari gerakan akar rumput yang notabene berasal dari kalangan tradisional, sederhana, dekat dengan alam dan menjunjung adat istiadat. Romo Prier dan Pak Paul Widyawan memandang "hasil bumi dan usaha manusia" yang berkenan pada Allah dalam setiap musik yang dilahirkan dari rahim tradisi. Ini dibuktikan dengan lahirnya banyak sekali karya-karya asli pribumi yang berasal dari cita rasa kekayaan Indonesia. Mengutip kata-kata Romo Prier sebagaimana diungkapkan Bu Elis,"Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia?" di mana orang-orang masa kini cenderung menyukai lagu-lagu internasional yang acapkali tidak dimengerti maknanya.
Saya pribadi sangat terharu dan antusias selama pelatihan singkat tersebut. Memperhatikan teman-teman yang serius dan para narasumber yang begitu santai dan asyik memberikan pengetahuan baru bagi kami para calon imam. Bu Elis bersama Mbak Esti tidak hanya memberikan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga menunjukkan langkah-langkah konkret dalam praktik nyata terutama dalam menyanyikan lagu dalam Madah Bhakti dengan penuh penjiwaan dan bagaimana memainkan lagu Inkulturasi sesuai jiwanya. Dalam suatu penjelasan, Bu Elis mengatakan bagaimana kita menyanyikan lagu serta menjiwai musik inkulturasi baik kondaktor, pemusik dan penyanyi agar sama-sama merasakan "kesetrum" menurut istilah Romo Prier. Dan benar, kami yang diajarkan untuk bernyanyi dari beberapa lagu Madah Bhakti hasil lokakarya dan perjuangan besar Romo Prier dan Pak Paul, merasakan daya "kesetrum" itu. Kami disetrum untuk mencintai lagu dan musik inkulturasi serta memperkenalkannya kepada para umat,"Inilah cita rasa Indonesia".
Sebagai penutup, saya sendiri mencintai lagu dan musik inkulturasi. Sejak SMP, saya diajarkan oleh salah seorang guru yang saat ini menjadi orang penting di Pusat Musik Liturgi. Beliaulah Bu Elisabet yang tidak lain dan tidak bukan adalah guru Seni di sekolah saya dahulu, SMP Pangudi Luhur St. Albertus Ketapang, yang saat ini pula mengajarkan saya kembali tentang musik Liturgi Inkulturasi. Pengetahuan notasi, bernyanyi, dan mencintai kebudayaan dimulai sejak saya SMP ini. Penampilan-penampilan seni di sekolah, berlatih paduan suara di Gereja dengan lagu Inkulturasi, semakin menumbuhkan rasa cinta saya pada musik-musik tradisional.
Dulu saya sempat berpikir, bahwa lagu-lagu di Gereja Katolik harus memiliki unsur Gregorian dan hanya ada di Puji Syukur (karena di Keuskupan Ketapang sendiri menggunakan lagu-lagu Puji Syukur). Suatu ketika, kami mendapatkan partitur lagu-lagu daerah yang berasal dari Madah Bhakti. Ketika saya menyanyikan dan berlatih bersama, saya begitu kagum pada harmoni serta musik yang digunakan untuk mengiringi lagu tersebut. Begitu indah, dan saya mulai jatuh cinta dengan lagu-lagu inkulturasi budaya dari berbagai daerah khususnya daerah saya sendiri, Kalimantan yang tidak kalah pilihan lagunya di dalam Madah Bhakti. Setelah mendapatkan penjelasan dari Bu Elis dan Mbak Esti, saya disadarkan kembali. Dari berbagai macam teori-teori Liturgi yang sudah saya terima dari kampus dan sempat membuat jiwa "konservatif" merasuki diri saya, perlahan terbuka dan mengembalikan rasa cinta saya akan lagu dan musik inkulturasi. Saya sangat berterima kasih pada Bu Elis, yang bukan orang asing bagi saya. Beliau adalah guru saya dan juga Tante dalam keluarga besar saya di Ketapang. Juga Mbak Esti, yang begitu sabar dalam membimbing para pemusik kami di Seminari dalam menjiwai musik inkulturasi. Dalam tulisan ini, saya sangat berterima kasih atas apa yang diberikan kepada kami, terutama waktu, tenaga, usaha serta perjuangan yang saya yakin akan terus berlanjut bagi tumbuh kembangnya lagu dan musik liturgi inkulturasi dalam tubuh Gereja.
Saya juga yakin, Tuhan Yesus tidak pernah menolak adat istiadat-Nya ketika Ia hidup saat melaksanakan karya Allah di dunia. Ia juga bermazmur dan memuji Allah dengan tata cara adat Yahudi. Maka dari itu, kita yang terlahir dalam adat asali masing-masing, tidak hanya memiliki kewajiban, tetapi juga berhak untuk mengembangkan adat istiadatnya agar tetap lestari. Apalagi jika itu diberi roh iman sehingga nilai tradisional tersebut dapat menjadi sarana dalam penyembahan kepada Allah. Lagu dan musik sebagai tubuh yang tampak, rasa tradisi sebagai jiwanya, dan roh iman pada Kristus menyempurnakan semuanya sebagai kesatuan yang utuh. Lagu dan Musik Inkulturasi adalah Roh iman dalam tradisi yang memuji Dia Yang Mahatinggi. Itulah yang saya rasakan ketika lagu Inkulturasi menjadi perwakilan setiap manusia di berbagai belahan dunia dalam memuji dan memuliakan Tuhan dengan jati dirinya masing-masing. Maka dari itu, saya berharap perjuangan Pusat Musik Liturgi (PML) harus terus berlanjut demi memperkaya liturgi Gereja Katolik. Dan tentu saja, semua hasil bumi dan usaha kita tersebut adalah demi kemuliaan Tuhan yang paling besar.
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Biara Suster Pasionis
Kisah di Rabu Abu, Valentine dan Nyoblos
Sebelum melaksanakan pesta rakyat, Romo Mardi dalam misa Rabu Abu di Kapel Seminari mengajak semua untuk merenungkan inti dari masa Prapaskah. “Masa Prapaskah merupakan masa pertobatan”, beliau mengawali homili. Romo Mardi membacakan kutipan bacaan pertama,”Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” (Yoel 2:13). Nabi Yoel mengajak semuanya untuk berpantang dan berpuasa dengan lebih menghayatinya dengan hati. Menurut Romo Mardi, hati merupakan pusat pribadi. “Hati merupakan totalitas kita sebagia manusia,” ungkapnya. Hati merupakan bagian yang penting dan paling mendalam. Ada pepatah yang mengatakan,”Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu?”. Penekanan hati yang dimaksud adalah sisi batiniah. Mengenai hati, kita perlu untuk peka dalam gerak batin seperti haru, heran, kagum, gembira, bahkan susah, duka, jengkel dan sebagainya. Merenungkan Prapaskah adalah mengenai batin kita untuk sampai dan mengenali Allah yang menyentuh hati kita. Mungkin dalam proses pantang dan puasa, kita merasa lapar, jengkel sehingga dalam masa prapaskah ini kita perlu belajar memilah mana saja gerak-gerak batin yang baik dan benar.
Pantang dan puasa bukan esensi fisik belaka sebab hati manusia tidak dapat dikomparasikan dengan organ fisik (hati: liver (red)). Nabi Yoel juga mengajak kita untuk menghayati pantang dan puasa secara lebih mendalam agar dapat mengalami kehadiran, perjumpaan dengan Allah yang memberikan kasih pengampunan, bertobat, berbalik dan mengarahkan hati kepada Allah. Selain itu Yoel mengajak kita untuk meniupkan sangkakala. Ini dapat dimaknai sebagai ajakan kepada orang lain untuk menghayati pantang dan puasa. Selain itu, dalam Injil, kita diajakn untuk tidak memviralkan melalui status-status media sosial, apapun bentuk karya amal yang kita buat, sedekah, semuanya itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya Tuhan saja yang dapat memahami pemberian kita dengan ketulusan, kejujuran dan kerelaan. Tidak lupa Romo Mardi mengingatkan para Frater untuk menghidupi semangat APP Keuskupan Malang dengan tema: “Membangun Tata Ekonomi Baru” yang terinspirasi pada ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ tentang bagaimana mengelola alam semesta sebagai rumah kita bersama. Relasi antara frater, Romo, karyawan dan juga alam berjalan beriringan dalam pencapaian cita-cita sebagai pelayan.
Setelah mendengar wejangan dalam menyambut masa Prapaskah. Para Frater menerima Abu sebagai tanda pertobatan. Abu yang sudah diberkati, kemudian ditandai di kening sembari mengucapkan doa,”Bertobatlah dan percayalah pada Injil” yang juga sekaligus mengatakan kepada kita “Ingatlah bahwa engkau adalah debu, dan engkau akan kembali menjadi debu". Selepas misa dan menyambut Ekaristi, kami mempersiapkan hati untuk berdiskresi mengenai pilihan presiden yang akan kami pilih.
Seluruh anggota komunitas Seminari Tinggi disebar ke berbagai TPS khususnya yang berstatus luar Jawa Timur. Termasuk saya sendiri, mencoblos di TPS 23. Pada pukul 10.00 saya dan Fr. Sirilus pergi berangkat menuju lokasi. Namun apa di kata, ketika saya bertanya kepada petugas TPS untuk masyarakat yang bukan KTP setempat, harus menunggu sekitar pukul 12.00 siang. Maka dari itu, kami semua kembali ke Seminari sambil menunggu jadwal yang ditentukan. Lalu kami kembali ke TPS 23 pada pukul 12.00 siang. Kami juga masih harus mengantri karena pemilih yang berdomisili asli di situ masih belum selesai gilirannya. Ketika menunggu sekitar jam 13.00 lewat, kami menyerahkan dokumen A5 yang sudah kami urus jauh hari sebelumnya. Tentu saja, tanpa ragu, saya memilih jagoan sesuai dengan hati nurani. Dengan harapan, siapapun yang akan menang nanti, beliau-beliau inilah yang bertanggung jawab menjaga amanat-amanat pendahulu untuk menjadikan negara Indonesia maju. Terlepas dari konteks selama kampanye berlangsung, banyak isu miring di sana sini, hoax merajalela, karya-karya menjelek-jelekkan pribadi dan lain sebagainya. Apapun gerakan yang dilakukan oleh semua orang, hendaknya berkiblat pada nilai moral bangsa kita sebagai negara yang Pancasilais. Pilihan boleh beda, tapi kita tetap Bhinneka Tunggal Ika!
Kami semua pulang dengan membawa sukacita dengan jari kelingking tertandai tinta ungu, menandakan bahwa hak pilih telah diserahkan dengan penuh tanggung jawab. Semangat diskresi dalam pantang dan puasa terus berproses. Dan semangat Valentine’s Day diterapkan dalam cinta Tuhan dalam panggilan, cinta akan sesama dan cinta akan tanah pusaka bangsa kita, Negara Indonesia.
Pisah Sambut Formator STISG
Acara pisah sambut formator Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang diawali dengan misa sore yang dipimpin oleh RP Tri Wardoyo, CM. Ada tiga hal yang disampaikan oleh Romo Tri terkait bacaan yang disampaikan pada hari Minggu, 11 Februari 2024 ini. Pertama, Apabila hendak mengikuti Yesus, seseorang harus memiliki hati yang penuh belas kasih, sebagaimana yang Yesus lakukan kepada si orang kusta,”Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan”. Lebih-lebih calon imam, harus memiliki hati yang berbelas kasih. Ia tidak dapat menutup mata dari orang-orang yang kelaparan, yang tidak dapat makan tiga kali sehari sebagaimana orang kebanyakan. Oleh karena itu, di Seminari para Frater dilatih untuk peduli kepada sesama Frater, para formator, staff dan karyawan. Praksis nyatanya minimal mengenal nama-nama para karyawan sebagai wujud kepedulian. Calon imam dididik untuk menjadi orang yang peduli, orang yang memiliki hati yang berbelas kasih. “Tidak bisa kita merekomendasikan begitu saja; Frater ini, kok, egois! Tidak peduli dengan sesama frater!” ungkap Romo Tri. Romo Bas selama kurang lebih 5,5 tahun, dan Romo Aang lebih dari 8 tahun menemani para Frater, juga tegerak untuk menolong orang lain. Kedua, Yesus mengajarkan tentang ketaatan. Yesus memerintahkan orang kusta itu untuk menunjukkan diri kepada Imam bahwa si kusta itu telah sembuh. Romo Bas dan Romo Aang dikenal sebagai pribadi yang taat. Orang kebanyakan berpikir,”Ini kan, panggilan saya, betul,” ungkapnya,”Tapi soal perutusan, itu adalah urusan pimpinan”. Apabila ini adalah benar-benar panggilan, maka pribadi tersebut takkan mudah goyah. Soal perutusan tersebut, adalah perkara para pimpinan. “Tidak mudah kalau ada imam yang tidak taat, kasihan pimpinan, uskup, provincial, siapa lagi yang harus saya utus kalau seperti ini?” Ketiga, siap hidup dalam kesendirian. Romo Tri mengungkapkan bahwa Yesus setelah menyembuhkan orang kusta, menyuruh orang tersebut supaya diam. Tapi justru malah orang tersebut memberitakan sukacita yang dialaminya itu ke mana-mana. Yesus pada akhirnya menyingkir. Dalam bacaan pertama, seharusnya orang kusta yang hidup di luar tembok, “Ini malah terbalik!” tegasnya. Malahan Yesus yang harus tinggal di luar tembok. Maka dari itu, sebagai pengikut Yesus harus berani hidup dalam kesendirian. Ketiga wejangan dari Romo Tri tersebut sangat membekas di hati para Frater, apalagi berkaitan dengan formatio.
Setelah misa dan mendapatkan santapan rohani, kegiatan selanjutnya di arahkan ke refter. Dalam ramah tamah, ada penampilan dari para Frater sehingga acara sukacita ini menjadi lebih hidup. Dalam ramah tamah ini, hadir pula Mgr. Hendrikus Pidyarto, O.Carm. Uskup Malang. Sebelum santap malam, ada beberapa kata sambutan yang sangat menarik untuk dipetik hikmahnya. Ketua Komunitas, Frater Virgi mengungkapkan dalam kata sambutannya, bahwa ada satu hal unik dan istimewa yang selalu diingatnya hingga saat ini tentang Romo Bas, yaitu pernyataan,”Tuhan mau berbicara apa?”. Kalimat ini selalu menemani, selalu membimbing perjalanan hidup panggilannya. Lalu, mengenai Romo Aang, ia berpendapat bahwa Romo Aang merupakan sosok Formator yang tegas dan disiplin, tetapi memiliki jiwa muda. Romo Aang juga menemani para Frater S2 untuk mengajarkan model imam seperti apa yang hendak dihidupi? Tentu saja, harapan besar kepada keduanya adalah agar Tuhan dapat menyediakan hadiah yang indah dalam hidup mereka. Lalu ia juga tidak lupa mengucapkan selamat datang kepada Romo Mardi yang akan menjadi bagian dalam formatio sebagai formator spiritualitas seminari dalam beberapa waktu ke depan.
Romo Mardi dalam kata sambutannya mengungkapkan kilas balik ketika berjumpa Romo Denny Firmanto yang saat itu menjabat sebagai rektor Seminari. Tiba-tiba Romo Denny merangkul saya,”Suatu hari Romo akan menjadi formator di sini,” ungkap Romo Mardi disambut gelak tawa para Frater. “Dan ternyata terjadi,” kata Romo Mardi. Ia bersyukur ditempatkan di Malang yang notabene lebih sejuk daripada kota Yogyakarta. Tadi pagi, ia bercerita bahwa ia sedang bersepeda, dan kemudian kesasar. Lalu ia berjumpa dengan seorang bapak-bapak dan berkata,”Saya tersesat, apakah bapak tahu jalan ke Seminari?” Usut punya usut, setelah bercerita, barulah beliau tahu bahwa bapak tersebut masih saudara sepupunya. “Saya meyakini bahwa Tuhan ada di mana-mana,” tuturnya.
Romo Aang pula dalam sambutan pertamanya mengatakan,”Terus terang, saya tidak ada firasat akan meninggalkan komunitas ini”. Menurutnya, menjadi formator adalah suatu hal yang menggembirakan karena harus mempersiapkan imam-imam Keuskupan di Indonesia. Baginya, ia mengalami peristiwa pastoral yang luar biasa,”Saya pernah di Seminari, lalu juga ke Paroki.” Di situ, ada pula Direktur TOR Giovanni XXIII Malang, Romo Louis. “Romo Louis juga di Seminari, tapi belum pernah jadi Pastor Kepala, bukan?” mendengar ini, para Frater tertawa terbahak-bahak sehingga suasana menjadi riuh dan kocak.
Senada dengan Romo Aang, Romo Bas dalam sambutan mengatakan,”Jika Romo Aang mengatakan bahwa hidup dan tinggal di Seminari adalah hal yang disenangi. Kalau saya selalu mengagetkan”. Bagaimana tidak, ketika akan dipindahkan ke Seminari, beliau nyaris tanpa persiapan. Beliau juga mengungkapkan bahwa para Frater yang ada di Seminari Tinggi ini, terdiri dari berbagai Keuskupan. Maka dari itu, beliau menerima dengan gembira pelayanan ini sebab ada keyakinannya bahwa panggilan berasal dari Tuhan. “Saya menjadi Gembala yang menuntun para Frater untuk berjumpa dengan Tuhan,” ungkapnya. Ia mengimani bahwa Tuhanlah yang akan menuntun para Frater ke arah yang dijalaninya. Beliau sempat bertanya kepada Provinsialnya,”Romo Provinsial, apakah Romo melupakan saya di sini?” Romo Bas bukannya tidak mau melayani di Seminari Tinggi, tetapi oleh karena langkah kaki sudah terasa begitu berat. Maka dari itu, Desember lalu Romo Bas mendapatkan penugasan baru yakni “Pemulihan Kesehatan”. Lalu beliau akan tinggal dengan Romo Provinsialat untuk menyembuhkan sakitnya.
Romo Tri Wardoyo, CM, Rektor Seminari Tinggi Interdiosan San Giovanni XXIII juga mengucapkan terima kasih kepada Romo Bas dan Romo Aang atas bimbingan dan didikannya, pelayanan yang sungguh mewarnai Seminari. Harapannya adalah agar apa yang diteladankan di Seminari sungguh-sungguh menetap dalam hati para formandi. Ucapan selamat juga diberikan kepada Romo Mardi yang memiliki pengalaman banyak dalam formatio sehingga ilmu-ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kepada para Formator.
Romo Hendrikus Pidyarto, O.Carm yang hadir mewakili sepuluh Keuskupan yang mengutus Fraternya untuk belajar di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII. Dedikasi selama lebih dari 8 tahun sebagai pembimbing Rohani, Romo Bas memiliki tugas yang berat tetapi penting dalam mendidik calon imam. Beliau mengungkapkan bahwa Romo Bas memiliki pengalaman rohani yang mendalam. Selanjutnya, Romo Aang yang telah mengabdi lebih dari 6 tahun dengan usaha yang diberikan dan penuh kedisiplinan. Orang memberikan stereotip,”Kadang ini menjadi hukuman seorang imam untuk Pendidikan atau ditempatkan di Seminar”. Lalu beliau menjawab dengan tegas,”Saya tidak setuju!”. Kadang beliau harus mengemis ke mana-mana untuk mendapatkan seorang Formator”. Meskipun demikian, beliau bersyukur pada akhirnya mendapatkan tenaga untuk membantu pembinaan para Frater.
Selama mengikuti kegiatan ini, penulis merasa terharu sekaligus bangga bisa menjadi bagian dari formatio. Apalagi bisa berjalan bersama para formator yang luar biasa seperti Romo Bas dan Romo Aang. Pengalaman penulis bersama Romo Bas, merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Sebab sejak tingkat satu hingga menjelang kepergian beliau ke tempat perutusan yang baru, saya rajin mengaku dosa kepada Romo Bas. Romo Bas adalah Bapa pengakuan penulis dan hanya dengan beliau penulis dapat terbuka dan menimba banyak nasehat yang berharga terutama dalam menghayati spiritualitas sebagai calon imam diosesan. Romo Aang adalah sosok yang hangat dan ramah. Beliau menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan kedisiplinan penuh sebagai formator. Penulis juga memiliki pengalaman menyenangkan saat bergabung sebagai anggota Goweser Giovanni bersama Romo Aang dan teman-teman. Beliau adalah sosok yang solid dan supportif. Beliau tidak meninggalkan siapapun yang tertinggal saat bersepeda bersama. Dua sosok yang penulis ceritakan ini telah berkontribusi besar bagi penulis dalam formatio, dan penulis yakin para Frater lainnya juga merasakan hal yang sama. Meskipun beliau-beliau ini telah berada di tempat berbeda, teladan mereka akan selalu kami hidupi sebagai salah satu cara untuk menikmati panggilan sebagai rahmat dan sukacita dari-Nya.
Sukacita “Natal Bersama” Frater Diosesan Di Malang
Misa pembukaan yang dipimpin oleh RP. Gregorius Tri Wardoyo, CM (rektor STIGS) tersebut berlangsung dengan hikmat. RD Aang Winarko, wakil rektor STIGS merangkap ekonom Seminari memberikan homili yang sangat berarti bagi para frater. Romo Aang pernah ditanya oleh sahabatnya melalui messenger chat “entah itu BBM atau WhatsApp” mengenai makna dari natal. Pertanyaan tersebut bukan suatu pertanyaan yang remeh sehingga harus dijawab dengan serius. Maka dari itu, Romo Aang menjawab bahwa makna natal adalah penyerahan diri. Natal bukan hanya menantikan penyelamat turun ke dunia atau bernostalgia tentang masa kecil akan indahnya hari natal, tetapi sungguh-sungguh penyerahan diri. Untuk mampu menyerahkan diri sepenuhnya, Romo Aang berkata bahwa penyerahan diri juga membutuhkan pengampunan. “Bagaimana seseorang dapat menyerahkan diri, apabila tidak disertai dengan pengampunan?” ungkapnya. Kontekstual dari penyerahan diri dalam kerangka pembinaan di Seminari mengenai persembahan seperti apa yang telah para frater berikan kepada komunitas STIGS? Romo Aang mengutip quotes Presiden Soekarno,”Jangan tanyakan apa yang bangsa ini berikan pada Anda. Tapi tanyakan apa yang sudah Anda berikan kepada Negara”.
Selain dalam rangka Natal Bersama, misa tersebut juga menjadi pembuka awal semester genap dalam perkuliahan di STFT Widya Sasana Malang. Tepat pada 16 Januari 2024, para Frater kembali melaksanakan perkuliahan. Romo Aang diketahui akan mengakhiri masa tugas sebagai Wakil Rektor dan Ekonom STIGS. Beliau akan berkarya di Paroki sehingga ada beberapa hal yang disampaikan kepada para Frater. “Masih banyak tugas kita di sini yang belum selesai,” ungkapnya. Beliau merasa bersyukur dalam masa pelayanan di Seminari banyak suka duka yang boleh dilewati. Romo Aang mengungkapkan bahwa tugas di paroki nanti menjadi suatu kepenuhan imamatnya. Setelah melayani pembinaan di Seminari, beliau akan melayani umat di Paroki dengan berbagai macam kompleksitas di tengah-tengah umat dan itu merupakan tantangan tersendiri.
Setelah misa, para Formator, frater dan karyawan Seminari melaksanakan ramah tamah di Refter. Beberapa Frater menampilkan penampilan untuk mengisi acara Natal bersama. Setelah itu, semuanya makan bersama dan penukaran kado. Kado yang ditukarkan tersebut telah didata oleh panitia, kemudian para Frater mengambil kupon berisi nomor sebelum masuk ruangan Refter dan nomor tersebut akan disebutkan sehingga semua peserta Natal Bersama mendapatkan kado sesuai nomor yang diperoleh. Natal Bersama berakhir dengan penuh sukacita. Waktu acara sekitar pukul 21.00, Para Frater bersama-sama membersihkan dan merapikan ruang refter seperti sedia kala. Kegiatan tidak berlangsung lama karena besok para Frater sudah memulai perkuliahan semester genap.











































.jpg)



