Sebelum melaksanakan pesta rakyat, Romo Mardi dalam misa Rabu Abu di Kapel Seminari mengajak semua untuk merenungkan inti dari masa Prapaskah. “Masa Prapaskah merupakan masa pertobatan”, beliau mengawali homili. Romo Mardi membacakan kutipan bacaan pertama,”Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” (Yoel 2:13). Nabi Yoel mengajak semuanya untuk berpantang dan berpuasa dengan lebih menghayatinya dengan hati. Menurut Romo Mardi, hati merupakan pusat pribadi. “Hati merupakan totalitas kita sebagia manusia,” ungkapnya. Hati merupakan bagian yang penting dan paling mendalam. Ada pepatah yang mengatakan,”Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu?”. Penekanan hati yang dimaksud adalah sisi batiniah. Mengenai hati, kita perlu untuk peka dalam gerak batin seperti haru, heran, kagum, gembira, bahkan susah, duka, jengkel dan sebagainya. Merenungkan Prapaskah adalah mengenai batin kita untuk sampai dan mengenali Allah yang menyentuh hati kita. Mungkin dalam proses pantang dan puasa, kita merasa lapar, jengkel sehingga dalam masa prapaskah ini kita perlu belajar memilah mana saja gerak-gerak batin yang baik dan benar.
Pantang dan puasa bukan esensi fisik belaka sebab hati manusia tidak dapat dikomparasikan dengan organ fisik (hati: liver (red)). Nabi Yoel juga mengajak kita untuk menghayati pantang dan puasa secara lebih mendalam agar dapat mengalami kehadiran, perjumpaan dengan Allah yang memberikan kasih pengampunan, bertobat, berbalik dan mengarahkan hati kepada Allah. Selain itu Yoel mengajak kita untuk meniupkan sangkakala. Ini dapat dimaknai sebagai ajakan kepada orang lain untuk menghayati pantang dan puasa. Selain itu, dalam Injil, kita diajakn untuk tidak memviralkan melalui status-status media sosial, apapun bentuk karya amal yang kita buat, sedekah, semuanya itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya Tuhan saja yang dapat memahami pemberian kita dengan ketulusan, kejujuran dan kerelaan. Tidak lupa Romo Mardi mengingatkan para Frater untuk menghidupi semangat APP Keuskupan Malang dengan tema: “Membangun Tata Ekonomi Baru” yang terinspirasi pada ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ tentang bagaimana mengelola alam semesta sebagai rumah kita bersama. Relasi antara frater, Romo, karyawan dan juga alam berjalan beriringan dalam pencapaian cita-cita sebagai pelayan.
Setelah mendengar wejangan dalam menyambut masa Prapaskah. Para Frater menerima Abu sebagai tanda pertobatan. Abu yang sudah diberkati, kemudian ditandai di kening sembari mengucapkan doa,”Bertobatlah dan percayalah pada Injil” yang juga sekaligus mengatakan kepada kita “Ingatlah bahwa engkau adalah debu, dan engkau akan kembali menjadi debu". Selepas misa dan menyambut Ekaristi, kami mempersiapkan hati untuk berdiskresi mengenai pilihan presiden yang akan kami pilih.
Seluruh anggota komunitas Seminari Tinggi disebar ke berbagai TPS khususnya yang berstatus luar Jawa Timur. Termasuk saya sendiri, mencoblos di TPS 23. Pada pukul 10.00 saya dan Fr. Sirilus pergi berangkat menuju lokasi. Namun apa di kata, ketika saya bertanya kepada petugas TPS untuk masyarakat yang bukan KTP setempat, harus menunggu sekitar pukul 12.00 siang. Maka dari itu, kami semua kembali ke Seminari sambil menunggu jadwal yang ditentukan. Lalu kami kembali ke TPS 23 pada pukul 12.00 siang. Kami juga masih harus mengantri karena pemilih yang berdomisili asli di situ masih belum selesai gilirannya. Ketika menunggu sekitar jam 13.00 lewat, kami menyerahkan dokumen A5 yang sudah kami urus jauh hari sebelumnya. Tentu saja, tanpa ragu, saya memilih jagoan sesuai dengan hati nurani. Dengan harapan, siapapun yang akan menang nanti, beliau-beliau inilah yang bertanggung jawab menjaga amanat-amanat pendahulu untuk menjadikan negara Indonesia maju. Terlepas dari konteks selama kampanye berlangsung, banyak isu miring di sana sini, hoax merajalela, karya-karya menjelek-jelekkan pribadi dan lain sebagainya. Apapun gerakan yang dilakukan oleh semua orang, hendaknya berkiblat pada nilai moral bangsa kita sebagai negara yang Pancasilais. Pilihan boleh beda, tapi kita tetap Bhinneka Tunggal Ika!
Kami semua pulang dengan membawa sukacita dengan jari kelingking tertandai tinta ungu, menandakan bahwa hak pilih telah diserahkan dengan penuh tanggung jawab. Semangat diskresi dalam pantang dan puasa terus berproses. Dan semangat Valentine’s Day diterapkan dalam cinta Tuhan dalam panggilan, cinta akan sesama dan cinta akan tanah pusaka bangsa kita, Negara Indonesia.
0 Komentar:
Posting Komentar